Selasa, 27 Agustus 2013

Memaknai Tradisi Munggahan

               MUNGGAHAN adalah tradisi turun menurun  bagi masyarakat Sunda. Tradisi ini dilakukan biasanya pada H-2 dan H-1 sebelum bulan Ramadhan tiba. Mendekati penghujung bulan  Sya’ban, para masyarakat Sunda yang ngumbara (merantau)  sengaja mudik atau pulang kampung. Mereka ingin berkumpul bersama keluarga, bermaaf-maafan, bersama-sama ziarah kubur, botram (makan bersama), mandi besar atau kramas di pemandian khusus atau kegiatan pensucian diri lainnya menjelang ramadhan.
            Bulan ramadhan adalah tamu yang penuh berkah. Pelbagai tradisi sebagai penghias jelang ramadhan sungguh mengasyikkan. Bagi masyarakat Indonesia yang multi kultur, kaya akan tradisi, kebiasaan menjelang ramadhan diekspresikan beraneka ragam.
            Di Aceh dikenal meugang, di Sumatera Barat dengan mandi balimau, di Jawa Timur ada nyadran, di Riau melakukan jalur pacu, di Betawi terkenal dengan nyorog, juga di Klaten ada padusan dan di Semarang melakukan dugderan, serta bermacam tradisi lainnya mewarnai kegiatan menjelang bulan puasa.
            Menurut almarhum Nurcholis Madjid (1993), agama dan tradisi (budaya) adalah dua bidang yang dapat dibedakan, tapi tidak dapat dipisahkan. Agama bernilai mutlak, tidak berubah menurut waktu dan tempat. Sedangkan tradisi dapat berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat.
            Berlimpah tradisi menyertai saat menjelang atau selama  bulan ramadhan. Kegiatan ini dimaknai untuk menunjukkan keagungan Islam. Para alim ulama menyebut, bila tradisi tidak melanggar aturan agama (sya’ri), itu dianggap bukan penyimpangan (bid’ah), jadi boleh dilakukan.
            Sesuai perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi, tradisi  menjelang ramadhan lambat laun mulai bergeser. Acara bermaaf-maafan kini berganti dengan ucapan digital lewat ponsel (sms atau bbm).  Acara mandi besar (kramas) dilakukan beramai-ramai, tanpa malu-malu di pancuran atau pemandian massal. Kebiasan botram (makan bersama) berubah menjadi makan di restoran, tidak lagi beralas samak atau tikar. Artinya suasana kebatinan tidak seindah pada masa lampau.
            Meski demikian, aura menjelang ramadhan tetap saja membuncah dalam makna spiritual keagamaan. Umat muslim di luar negeri pun melakukan hal yang sama. Di Mesir penduduk sengaja memasang famous, lampu gemerlap, di Bangladesh menyiapkan manisan jilapi, di Malaysia terkenal dengan bubur lambuk, di Albania terkenal dengan sajian daging byrek, dan bermacam keunikan khas dilakukan Negara lainnya mayoritas muslim menambah semarak ramadhan.
            Almarhum KH Abdurrahman Wahid mengatakan, di dalam mengagungkan Tuhan dan di dalam mengungkap rasa indah akan hubungan manusia dengan Sang Khalik, agama kerap menggunakan kebudayaan secara massif (Islam Kosmopolitan, hal 291).
            Menurut Jaih Mubarok (2008), kebiasaan atau tradisi yang sejalan dengan aturan agama Islam boleh dilakukan, karena sahih (al-adat al-shahihat). Namun ada juga tradisi dan kebiasaan yang tidak sejalan dengan agama, disebut sebagai al-adat al-fasidat.
           
Tradisi Munggahan
            Munggahan  bagi masyarakat Sunda merupakan tradisi pensucian diri. Dicerminkan dari sikap luhur masyarakat Sunda dalam makna spiritual sebagai wujud rasa hormat menyambut datangnya bulan ramadhan, karena ramadhan bulan penuh berkah dan ampunan.
            Dalam Kamus Basa Sunda, unggah berarti kecap pagawean nincak ti handap ka nu leuwih luhur, naek ka tempat nu leuwih luhur (Danadibrata, 2006). Dalam Kamus Umum Bahasa Sunda (1992), munggah berarti hari pertama puasa pada tanggal satu bulan ramadhan.
            Pelbagai acara menjelang ramadhan sesuai akidah dilakukan, misalnya membersihkan mesjid untuk persiapan tarawih, pengajian diisi ceramah menjelang ramadhan, ziarah kubur dan bermaaf-mafan serta silaturahmi merupakan ikhtiar dalam al-adat al-shahihat.
            Namun masih ada saja segelintir orang melakukannnya dengan tradisi atau kegiatan ria, misalnya membakar kembang api, mengagetkan dengan bunyi petasan, perang dentumaan lodong (meriam bambu) yang acapkali terjebak dengan perbuatan al-adat al-fasidat, menyimpang dari makna munggahan.
            Makna kegembiraan menjelang ramadhan, tentunya harus dipahami dengan tidak melakukan perbuatan yang mengganggu khidmat ramadhan. Tidak pada tempatnya kebiasaan di kota, kebut-kebutan dengan sepeda motor atau mobil, dibawa menjeadi pelengkap munggahan di kampung asal.
            Bagi setiap orang, bila diklasifikasikan ada tiga tipe menyambut datangnya ramadhan. Pertama, ramadhan dianggap biasa-biasa saja. Artinya ia cuek, acuh tak acuh, menganggap ramadhan sebagai kegiatan normal musim tahunan.
            Kedua, menganggap ramadhan sebagai ritual menahan haus dan lapar. Seolah ramadhan sebagai pembatas luapan hasrat semata. Sehingga menjelang ramadhan dimuntahkan dengan upacara makan enak sepuas-puasnya sebelum nantinya berlapar-lapar dalam puasa, seolah puasa dijadikan beban.
            Ketiga, menganggap ramadhan sebagai bulan suci, bulan penuh berkah dan ampunan, sehingga di bulan ramadhan berlomba-lomba meningkatkan pahala, dengan tarawih, tadarus, iktikaf serta melakukan infaq dan sedekah. Orang yang beriman menyambut ramadhan dengan suka cita.
            Ketika bulan ramadhan Allah SWT menurunkan rahmat dan pahala berlipat untuk setiap ibadah numat muslim. “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah : 183).
            Menurut Hadis diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu perbuatan kebajikan (sunnah), ia akan mendapatkan pahala seperti kalau ia melakukan perbuatan wajib pada bulan lain. Barangsiapa melaksanakan suatu kewajiban pada bulan (ramadhan) itu, ia akan mendapatkan pahala kalau ia mengerjakan 70 perbuatan wajib pada bulan yang lain”.
            Janji Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW membuat umat muslim khidmat menyambut bulan suci ramadhan, karena ramadhan adalah media pensucian diri dalam penghilangan dosa-dosa. Sehingga munggahan menjadi lebih bermakna dalam perispan diri memasuki bulan suci penuh berkah.
            Mari lah kita sambut ramadhan dengan kesucian hati, selain melakukan ibadah pengampunan diri, juga menolong sesama umat muslim lainnya yang tengah didera kesusahan. Marhaban ya Ramadhan … !
Sumber: GALAMEDIA, 8 Juli 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar